Minggu, 22 Juli 2012

Kemerosotan Toleransi Antar Umat Beragama

         Pada  era  globalisasi  saat  ini, tiap  umat  beragama  berhadapan  dengan  rangkaian  tantangan  yang  tidak  jauh  berbeda  dari  yang  pernah  terjadi  sebelumnya. Perbedaan  agama  merupakan  fenomena  nyata  yang  ada  dalam  kehidupan. Karena  itu, lahirlah  toleransi  yang  sangat  penting  perannya.
Menurut  Wikipedia, pengertian  toleransi  adalah  sikap  dan  perbuatan  yang  melarang  adanya  diskriminasi  terhadap  kelompok-kelompok  yang  berbeda  atau  tidak  dapat  diterima  oleh  mayoritas  dalam  suatu  masyarakat. Contohnya  adalah  toleransi  beragama, dimana  penganut  mayoritas  dalam  suatu  masyarakat  mengizinkan  keberadaan  agama-agama  lainnya.


Tiap  agama  mengajarkan  toleransi

Bagi  kalian  agama  kalian, dan  bagi  kami  agama  kami.” Ayat  tersebut  tertera  dalam surat (Al-Qur’an)  Al-Kafirun  ayat  6 yang menggambarkan  toleransi  dalam  agama  Islam. Selain  ayat  diatas, banyak  ayat  lain  yang  tersebar  di  berbagai  surat, praktik  toleransi  dalam  sejarah  Islam, dan  hadis  Rasulullah, seperti  “Agama  yang  paling  dicintai  Allah  adalah  agama  yang  lurus  dan  toleran.”

Tak  hanya  Islam, lima  dari  enam  agama  yang  diakui  di  Indonesia, yakni  Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan  Kong  Hu  Chu, juga  mengajarkan, bahkan  menganjurkan  untuk  saling  bertoleransi  antar  umat. Seperti  ucapan  dalam  ajaran  agama  Katolik, sebagaimana  tercantum  dalam  Deklarasi  Konsili  Vatikan  II  tentang  sikap  terhadap  agama-agama  lain, yang  berpegang  teguh  pada  hukum  yang  paling  utama, yakni “Kasihanilah  Tuhan  dengan  segenap  hatimu  dan  segenap  jiwamu  dan  dengan  segenap  hal  budimu  dan  dengan  segenap  kekuatanmu. Kasihanilah  sesama  manusia  seperti  dirimu  sendiri.” 

Isi  deklarasi  diatas  menggambarkan  bahwa  pada  dasarnya  manusia  memiliki  hak  yang  sama, tidak  ada  rasa  untuk  membeda-bedakan  meski  berlainan  agama. Juga  memiliki  sikap  saling  menghormati  agar  tercipta  kehidupan  yang  rukun  dan  damai. 

Agama  lain  pun  mengajarkan  pula  tentang  masalah  kerukunan. Dalam  pandangan  agama  Hindu  untuk  mencapai  kerukunan  antar  umat  beragama, manusia  harus  memiliki  dasar  hidup  yang  disebut  Catur  Purusa  Artha, yang  mencakup  Dharma, Artha, Kama, dan  Moksha. Dharma  artinya  susila  dan  berbudi  luhur. Dengan  Dharma, seseorang  akan  mencapai  kesempurnaan  hidup, baik  untuk  diri  sendiri, keluarga  dan  masyarakat. Artha, yakni  kekayaan yang  memberi  kepuasan  hidup. Kama  pun  diperoleh  berdasarkan  Dharma. Moskha  berarti  kebahagiaan  yang  abani, yakni  tujuan  akhir  dari  agama  Hindu  yang  tiap  saat  selalu  dicari  sampai  berhasil. Upaya  mencari  Moskha  juga  beerdasar  pada  Dharma.
Keempat  dasar  inilah  yang  merupakan  titik  tolak  terbinanya  kerukunan  antarumat  beragama. Keempat  dasar  tersebut  memberikan  sikap  saling  menghormati  dan  saling  menghargai  keberadaan  umat  beragama  lain. Tidak  saling  mencurigai, juga  tidak  saling  menyalahkan. 

Sedangkan  menurut  agama  Buddha, berkembangnya  perpecahan  dan  hancurnya  persatuan  serta  kerukunan  mengakibatkan  pertentangan  dan  pertengkaran. Sang  Buddha  bersabda  dalam  Dharma  pada  ayat  6, yakni  “Mereka  tidak  tahu  bahwa  dalam  pertikaian  mereka  akan  hancur  dan  musnah, tetapi  mereka  yang  melihat  dan  menyadari  hal  ini  akan  damai  dan  tenang.”

Dalam  pandangan  Kristen  Protestan, aspek  kerukunan  hidup  beragama  dapat  diwujudkan  melalui  Hukum  Kasih  yang  merupakan  pedoman  hidup, yakni  mengasihi  Allah  dan  sesama  manusia. Kasih  merupakan  hukum  utama  dan  yang  terutama  dalam  kehidupan  umat  Krsiten. Landasan  kerukunan  menurut  agama  Protestan  bersandar  pada  Injil  Matius  22:37.

Pandangan  terakhir, yakni  dari  agama  Kong  Hu  Chu, manusia  memiliki  lima  sifat  mulia  untuk  menciptakan  kehidupan  harmonis, yakni  Ren (cinta  kasih), Gi (solidaritas), Lee (sopan  santun), Ce (bijak, pengertian  dan  kearifan), dan  Sin (rasa  percaya). Memperhatikan  ajaran  Kong  Hu  Chu  tersebut, lima  sifat  mulia  tersebut  sangat  menekankan  hubungan  yang  harmonis  antara  sesama  manusia  dengan  manusia  lainnya, tanpa  membedakan  agama  dan  keyakinan, disamping  hubungan  harmonis  dengan  Tuhan  dan  serta  lingkungannya. 

Terbukti, tiap  agama  mengajarkan  untuk  saling  mengasihi  dan  menyayangi  tiap  umat  tanpa  memandang  keyakinannya. Sayangnya, lagi-lagi  konflik  antar  umat  beragama  terjadi  untuk  kesekian  kalinya di  Indonesia. Hal  tersebut  tercerminkan  dari  hasil  survei  yang  dilakukan  oleh  Badan  Pengurus  Setara  Institut (BPSI)  tentang  keberagaman  publik. Hasil  survey  menyatakan, sebagian  besar  responden, yakni  45,9%, membuktikan  bahwa  keberlangsungan  kemajemukan  di  Indonesia  sedang  terancam.



Kemajemukan  di  Indonesia  terancam

                Wakil  BPSI, Bonar Tigor Naipospos memaparkan, kemajemukan  di  Indonesia  terancam  akibat  kemerosotan  toleransi  antar  umat  beragama  akhir-akhir  ini.  Hasil dari survei yang dilakukan oleh BPSI  terhadap 3000 responden di 47 Kabupaten  pada  10-25  Juli  2011  lalu  ialah sekitar  55,4%  responden  menyatakan  sangat  setuju  dan  setuju  toleransi  antar umat  beragama. Sepuluh  provinsi  dilakukan  survei  dengan  metode  random, yakni  Jakarta, Jawa  Barat, Yogyakarta, Jawa  Timur, Nusa  Tenggara  Barat, Sulawesi  Selatan, Kalimantan  Timur, Sulawesi  Tengah, Sumatera  Selatan, dan  Sumatera  Barat.
                “Sikap-sikap intoleransi  dalam  pandangan  keagamaan  semacam  itu, berdasarkan  persepsi  responden  dapat  mengalami  intensitas  yang  berpeluang bagi munculnya tindakan kekerasan yang  mengatasnamakan  agama,” paparnya, Kamis (21/6). Bonar  menambahkan, survei  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  pandangan  publik  dan  menghimpun  langkah  apa  yang  harus  dilakukan  oleh  negara  menganai  persoalan  keagamaan.

Upaya  memperbaiki  toleransi  antar  umat  beragama


Menanggapi  langkah  yang  harus  dilakukan  untuk  menumbuhkan  rasa    toleransi  antarumat  di  Indonesia, salah  satu  aktivis  HAM  pada  Organisasi  Kerjasama  Islam, Siti  Ruhaini  Dzuhayatin  menegaskan, tiap  umat  Islam  hendaknya  selalu  melakukan  upaya  dialog  dalam  tiap  pandangan, baik  antar  sesama  umat  Islam  sendiri  maupun  dengan  umat  lain. “Tantangan  peradaban  global  saat  ini  menuntut  umat  manusia  untuk  saling  menghormati  keyakinan, agama, dan  pandangan  masing-masing,” lanjutnya, Jumat (22/6).
                Ruhaini  melanjutkan, masalah  toleransi  umat  beragama  akan  terselesaikan  jika  umat  Islam  dan  umat-umat  lainnya  ikut  memperjuangkan  nilai-nilai  toleransi  antar  umat  beragama, sikap  moderat, menentang  segala  bentuk  ektrimisme, tindakan  kekerasan, terorisme, menoleh  Islamphobia, dan  memediasi  negara-negara  untuk  memberikan  perlindungan  terhadap  hak  tiap  orang.  “Hal  itu  dilakukan  agar  antar  penganut  agama  dapat  hidup  berdampingan  secara  damai,” tegasnya.
                Sementara  itu, menurut  dosen  Civic  Education  Fakultas  Ilmu  Dakwah  dan  Komunikasi (FIDKOM), M. Hudri, solusi  dari  masalah  toleransi  antar  umat  beragama  dapat  diatasi  dengan  dua  cara. “Cara  yang  pertama, yakni  menyelesaikan  dengan  cara  hukum. Sudah  ada  undang-undang  yang  mengatur  tentang  toleransi  antar  umat  beragama  di  Indonesia. Namun, cara  hukum  dilakukan  jika  sudah  terjadi  kasus  atau  konflik  yang  merugikan  banyak  pihak. Sedangkan  cara  yang  kedua  adalah  dengan  musyawarah  mufakat,” paparnya, Kamis (21/6).
                Diluar  pandangan  Islam, menurut  pandit (pendeta)  di  pura  Aseman  Desa  Kerambitan, Shri  Dhanu  menuturkan, upaya  untuk  mengendalikan  toleransi  antar  umat  beragama  adalah  dengan  memahami  kembali  fungsi  dan  peranan  agama  kehidupan  umat  manusia, yakni  faktor  motivatif  yang  mendorong  manusia  meningkatkan  kualitas  hidupnya. “Selain  itu, ada  faktor  inovatif  yang  mendorong  untuk  berkreasi  dan  mengadakan  pembaharuan, faktor  insfiritif  yang  memberikan  inspirasi  untuk  mengabdi  kemanusiaan, faktor  edukatif  yang  mendidik  diri  manusia  mencapai  kedewasaan, dan  faktor  sublimatif  yang  mengubah  diri  dari  yang  tidak  baik  menjadi  baik,” tuturnya, Jumat (29/6).

dimuat di rubrik analisis www.lpminstitut.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar